Scoliosis adalah sebuah kata yang asing bagi telinga sebagian orang termasuk saya. Kata ini pertama kali saya dengar dari diagnosa dokter yang memeriksa anak saya di tahun 2012.
Berawal dari rangkaian tes penerimaan sekolah ikatan dinas di BMKG serta STIS ( Sekolah Tinggi Ilmu Statistik). Ketika masuk tahapan tes kesehatan, ada diminta photo rontgent. Hasil rontgent disalah satu rumah sakit di Palembang sangat mengejutkan perawat yang ada disana dan kebetulan perawat ini kenalan baik istri saya. Kelainan ini disampaikan kepada istri agar tidak terdengan oleh anak saya. Beberapa saat kemudian istri telpon saya dengan suarat berat menahan tangis untuk menyampaikan berita kurang menyenangkan ini. Dibenak saya apa Scoliosis ini, mulailah saya aktif searching di dunia maya mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang scoliosis. Banyak pertanyaan yang ada di pikiran kami sebagai orang tua, mencoba mengingat apa yang terjadi pada anak kami sebelum ini. Rasanya tidak ada satu alasan yang menjadi pemicu scoliosis anak ini.
Fase Bimbang.
Hasil pengumuman akhir dari penerimaan BMKG dan STIS anak saya dinyatakan LULUS dan bersamaan dengan itu hasil test di ITB juga dinyatakan LULUS. Dengan hasil lulusnya di STIS dan ITB ini menjadikan kami bimbang untuk memutuskan pilihan karena hal ini menyangkut kondisi phisik sang anak. Untuk itu kami memutuskan konsultasi dengan dokter spesialis tulang dan spine yang ada di Palembang, karena sebelumnya hanya photo rontgent thorax saja dan kali ini dokter spesialis ortopedy dan spine meminta photo rontgent ulang dari berbagai sudut pengambilan agar bisa ditentukan bagaimana bentuk dan berapa derajat kemiringan scoliosisnya. Namun sebelum itu disaat pemeriksaan palpasi dokter sudah menyimpulkan benar Scoliosis.
Setelah didapat photo yang diminta, dokter mengukur derajat kemiringannya, berkisar 28 derajat.dan tidak terdapat spine (tulang yang melintir). Beberapa pertanyaan kami ajukan ke dokter sebatas apa yang kami pahami (terus terang sangat sedikit info yang kami tahu karena sulitnya mencari akases ke sumber onformasi tentang scoliosis ini). Focus pada pertanyaan adalah suatu harapan, “Apakah Bisa disembuhkan ?”. Jawaban dokter, tidak bisa normal malah kemungkinan bertambah derajat kemiringan bisa jadi mengingat usia anak masih dalam pertumbuhan (belum mature) . Pernyataan dokter ini tentu membayangi perjalanan hidup sang anak karena menurut dokter di usianya 17 tahun sekarang jika tidak diatas maka setiap tahun dapat bertambah tingkat kemiringan minimal 3 derajat per tahunnya.dan tidak ada obat-obatan yang perlu dikonsumsi,. Dokter menyarankan untuk olahraga ringan seperti angkat badan (bergelantungan), renang.serta penggunaan Brace. ( sejenis rompi untuk menahan kemiringan tulang , harga brace yang paling murah berkisar mulai dari harga 5 juta rupiah yang dapat diperoleh di rumah sakit yang mendukung untuk pasien disposible).
Inilah fase yang membuat kami sulit mengambil keputusan terhadap study anak apakah mengambil ikatan dinas di STIS atau kuliah di ITB. Peritmbangan kami adalah kalau di STIS maka selesai pendidikan bisa langsung diangkat pegawai sehingga faktor penyakit scoliosis yang kemungkinan menjadi penghalang pada saat tes kesehatan penerimaan pegawai jika derajat kemiringan bertambah parah. akan teratasi. Sedangkan di ITB, maka ketika selesai pendidikan akan melamar pekerjaan lagi dan ini ada penghalang disisi kesehatan tersebut. Anakpun mengalami stress tinggi untuk memutuskan pilihannya disatu sisi dia sangat menginginkan ITB sebagai jalan menuju cita-citanya.
Setelah hampir 2 minggu bergulat dengan berbagai pertimbangan yang cukup berat, akhirnya kami putuskan untuk meninggalkan STIS dan kuliah di ITB dengan berbagai scenario yang akan diambil, sampai kemungknan terburuk sudah kami siapkan.
Kendala untuk kuliah di ITB muncul di awal pendaftaran, karena pendaftaran ulang di ITB saat itu sudah lewat dari ketentuan yang diberikan di ITB, dan saat itu calon mahasiswa baru sudah mengikuti kegiatan OSPEK seminar seven habbit, dsb. Anak saya masih harus berjuang meminta ke rektorat ITB agar masih bisa diberikan kesempatan mendaftar ulangdengan alasan saat itu adalah faktor kesehatan. Pengajuan surat permohonan diajukan dengan melampirkan surat keterangan dokter akan kondisi si anak saat itu. Alhamdulillah, ITB dapat memahami dan memberi kesempatan melalui keputusan wakil rektornya tetapi dengan pertimbangan kesehatan pihak ITB mengarahkan untuk pindah jurusan hal ini dimaksudkan si anak tidak terkendala dalam perkulihan karena ada keterbatasan scoliosisnya. Anak kami ternyata tetap berusaha untuk bisa tetap berada di juruan awal yang dia pilih, dan untuk itu membuat permohonan kembali ke pihak ITB agar tetap diberi kesempatan pada pilihan jurusan awal.
ITB meloloskan permohonan kami tetapi dengan syarat segala resiko yang terjadi selama perkuliahan yang berkaitan dengan penyakit scoliosis akan menjadi tanggung jawab kami sendiri, dimana ITB juga tidak memberikan rekomendasi apapun yang berkaitan dengan scoliosis jika suatu saat penyakit ini menjadi kendala selama mengikuti perkuliahan.
Ikhtiar dan Do’a
Focus selanjutnya setelah urusan pendidikan selesai dan anak bisa mengikuti perkuliahan adalah mencari berbagai informasi dari berbagai sumber, dan yang paling mudah adalah dengan mengakses internet. Berbagai blog yang berisi pengalaman penderita scoliosis menjadi bacaan sehari-hari, sehingga mulai memahami apa yang dirasakan penderita scoliosis dalam mengisi hari-harinya Sharing informasi sangat bermanfaat buat kami sebagai orang tua untuk memberikan dukungan penuh dan memberikan semangat kepada anak untuk tidak pernah menyerah dan kami yakinkan kesembuhan InsyaAllah pasti akan datang suatu saat.
Group diskusi seperti MSI ( Masyarakat Scoliosis Indonesia ) dan MSI Jakarta juga kami ikuti, semua untuk mendapat masukan sebanyak-banyaknya tentang Scoliosis. Alhamdulillah dari sharing sahabat dengan kendala yang sama, para pemerhati, simpatisan dan dokter-dokter spesialis orthopedy dan spine mulai memberikan pemahaman tentang scoliosis. Spesial terimakasih juga buat mbak Trie Kurniawati di MSI Jakarta yang banyak memberikan sharing berharga (pernah dikirim FAQ tentang scoliosis juga dalam bentuk file pdf). Kisah inspirastif seperti yang dibuat oleh mbak Indi juga menjadi motivasi kuat bagi penderita Scoliosis. Hebat, mereka semua seperti satu bagian tubuh yang bisa saling merasakan bagaimana mereka menjalani hari-hari dengan berteman bersama scoliosis. Group diskusi ada yang di facebook juga ada di forum ini : http://www.msindonesia.org/forum

Group diskusi MSI sangat bermanfaat, banyak informasi yang bisa didapat bahkan banyak relawan yang membantu dalam memberikan informasi, bahkan bantuan-bantuan lain bagi yang mempunyai keterbatasan ekonomi. Mereka sangat care terhadap para penyandang scoliosis. MSI kalau gak salah didirikan tanggal 27 April 2008, yang dideklarasikan di Bandung walau usianya masih muda tetapi mereka sudah banyak memberikan manfaat. Saat ini diketuai oleh DR.dr.Luthfi Gatam, SpOT
Theraphy alternatif
Kami adalah keluarga yang berpikir rasional dan selalu mengedepankan tindakan medis untuk mengatasi keluhan penyakit. Suatu ketika anak kami ini meminta ijin untuk dipijat oleh seseorang yang sebelumnya pernah mengobati orang tua temannya yang menderita kanker payudara (Alhamdulillah sembuh total). Setelah kami pastikan tidak ada unsur mistis dengan jampi-jampi dalam pelaksanaan pijat tersebut maka saya ijinkan anak dipijat.Selang beberapa hari setelah dipijat saya amati bagian punggung anak, saya minta anak mengambil posisi tegak, membungkuk, sujud untuk melihat kondisi scoliosisnya. Saat itu saya agak heran karena posisi tulang yang menonjol saat itu sudah mulai masuk kedalam dan sedikit mulai rata/balance dengan posisi tulang sebelah kiri. Ketika saya sampaikan ke anak, dia bilang saya cuma ingin menyenangkan dia aja dengan memberi kabar gembira. Sampai kondisi ini, saya pun belum yakin akan perubahan yang begitu cepat. Untuk mempercepat proses kesembuhan anak dibekali semacam jamu, saat itu hanya ada 1 botol, harusnya 2 botol yang dibawa ke Bandung.
Liburan Semester I
Pencarian terhadap apapun yang bisa memberi kesembuhan scolisis tetap mejadi perburuan. Artikel theraphy dari luarpun dipelajari, ada beberapa brace dengan harga puluhan juta juga sudah sempat ditanya serius. Sampai kemungkinan akan coba pengobatan therahy diluar negeri sebagaimana tawaran di situs-situs mereka. Ya semua demi kesembuhan anak tentunya.
Bulan Desember,2012 anak saya pulang karena liburan semester I. Kesempatan ini kami gunakan untuk kontrol atau pijat kembali. Di Bulan Januari 2013, Orang yang memijat kami jemput ke rumah agar waktu lebih leluasa, maklum kalau ditempat prakteknya pasien cukup banyak bahkan bisa sampai larut malam antriannya.. Alhamdulillah ketika dipijat lagi ditunjukkan ke kami kalau kondisi tulang sudah normal, dan kami diminta untuk membuktikan secara medis melalui photo rontgent. Subhanallah. jika memang kesembuhan sudah Allah berikan. perasaan senang dan tak henti bersyukur kepada kemurahan Allah kepada kami.
Kontrol ke Dokter Spesialis
Untuk mendapatkan second opinion, kami memutuskan mengganti dokter orthopedy dan spine. Pilihan jatuh ke dokter yang praktek di RS RK Charitas. Tanggal 14 Januari 2013, konsultasi dengan membawa photo rontgent sebelum. Dokter memeriksa phisik anak. Kesimpulan dokter kondisi baik dan derajat kemiringan sudah tidak tampak kalaupun ada maka kata dokter tidak sampai 10 derajat, ( seorang masuk dalam katagori normal apabila derajat kemiringannya dibawah 10 derajat). Dokter hanya menyarankan photo ulang 6 bulan lagi selanjutnya menyarankan untuk tidak beraktifitas yang berat seperti badminton, lari, futsall dan olahraga yang memberikan penekanan berlebih pada tumpuan tulang.. Renang dilakukan dengan gaya dada, bergelantungan dengan mengangkat badan. Jadi perlu dijaga mengingat usia belum mature, nanti di usia 21 tahun maka pertumbuhan sudah berhenti.
Semangat Baru
Dengan kondisi yang kami dapatkan ini tentunya akan menjadi semangat dan warna baru bagi anak kami untuk menyongsong masa depannya. Oh iya disamping ikhtiar dengan cara di atas mungkin kami bisa sharing juga apa yang kami lakukan untuk anak kami yang mungkin semua itu saling mendukung untuk proses kesembuhan.
(1) lakukan theraphy sholat dengan gerakan sholat yang benar khususnya pada saat ruku’ dan sujud, sedikit diperlama karena kami meyakini hadist Nabi yang kurang lebih mengatakan gerakan sholat pada saat itu sampai bertemunya ruas-ruas tulang ke posisinya. Dan ini kami yakini juga membawa pengaruh sebagai bagian dari theraphy
(2) Renang seminggu sekali
(3) di Rumah kami buatkan gantungan dari besi agar anak bisa meregangkan tubuh dengan bergelantungan
(4) Ikhlas dan yakin akan pertolongan Allah, dan selalu berdo’a dalam setiap kesempatan khususnya dalam sholat malam
(5) di lingkungan keluarga antara suami dan istri harus harmonis, jangan ada ganjalan apapun dalam kehidupan sehari-hari
Berita gembira ini kami coba share juga di group FB MSI, sayangnya kurang mendapat respons dari para penderita scoliosis, saya tidak tahu apakah mereka ragu apa yang saya sampaikan ini benar atau memang ada keputusasaan dari mereka karena seolah-olah tidak ada jalan kesembuhan selain dengan operasi. Semoga para pembaca yang kebetulan memiliki masalah yang sama dengan anak saya yang saat ini berteman dengan scoliosis tetap semangat dan selalu yakin ada suatu rahasia dibalik semua yang diberikan kepada hamba-Nya. Anda adalah orang-orang pilihan dimuka Bumi ini. Dan yakinlah Allah akan memberi kesembuhan dengan berbagai jalan yang Allah ijinkan. Salam






