Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Cerita Sahabat’ Category

Engkau telah menggapai kemuliaan dunia yang hakiki. Tak ada orang lain. Tak ada orang yang dapat mencapai derajat tertinggi itu. Engkau telah mencapai derajat yang paling puncak yang tidak dapat didaki, kecuali hanya oleh orang-orang yang ikhlas. Orang-orang banyak beribadah, bercita-cita luhur, dan meninggalkan dunia beserta kesenangannya.

Ia adalah orang yang paling dekat dengan sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu. Ia adalah orang yang paling wara’. Ia adalah seorang pria yang hatinya sangat lembut.Suka menumpahkan air mata. Apabila shalat ia lupa akan segala hal. Tak ingat lagi kehidupan dunia. Ia sangat mencintai Rabbnya. Ibadahnya tak pernah henti. Ada seorang pria ‘Aslam, yang memberikan kesaksian, ketika melihat orang itu sedang shalat, yang ia tak pernah melihat dilakukan oleh orang lain. “Apabila ia sujud, ia laksana kain yang dilempar dan dihinggapi oleh burung-burung”, ujar ‘Aslam.

Saat menjelang malam Ia jarang tidur. Ia tak memejamkan matanya. Saat orang lain sedang asyik dibuai mimpi-mimpi. Keluarganya pun kasihan kepadanya.Sampai seorang putrinya menegurnya. “Wahai ayah!. Mengapa selalu terjaga? Padahal orang-orang sedang asyik tidur?”. Orang itu menjawab pertanyaan putrinya. “Sesungguhnya neraka janaham terbayang di mataku!, ucap ayahnya. Suatu ketika. Orang itu berkata kepada putrinya yan ia cintai itu, dan berkata : “Aku sangat takut. Takut aku tergelincir ke dalam neraka”, kata ayahnya.

Para sahabat lainnya, ingin mengetahui, bagaimana lamanya shalat tahajud di malam hari. Salah seorang sahabat, lalu menuturkan : “Mereka menaruh tanda di rambutnya, karena rambut orang itu tebal, untuk mengetahui orang itu tidak atau tidak? Ternyata tanda yang mereka taruh itu tidak berubah. Dari peristiwa itu, diketahui ia tidak membaringkan tubuhnya di malam hari”.

Bila pagi tiba. Ia berkata :”Selamat datang, wahai para malaikat Allah. Tulislah, ‘Bismillaahir-Rahmanaanir-Rahim, subhanallah, wal-hamdulillah, laa Ilahaa illallaah wallaahu Akbar!”. Ia sangat meresapi makna all-Qur’an, bila membacanya. Mengetahui apa yang diperintah dan larangannya. Mengenal betul janji dan ancamanNya. Suatu kali, ia melakukan shalat tahajud, dan membaca ayat : “Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, yaiu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu”. (al-Qur’an : 45:21) Ayat itu merasuk ke dalam pikirannya. Sampai tidak dapat melanjutkannya. Ayat itu diulang-ulang sampai pagi hari. Ia merasakan lezatnya, ketika membaca al-Qur’anul Karim.

Siapa orang itu? Ia tak lain adalah Rabi’ bin Khutsaim bin ‘Aidz rahimahullah. Ia adalah murid Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, yang menjadi pewaris ilmunya, peneladan akhlaknya, imam dalam ibadah, zuhud, dan wara’.

Rabi’ tak suka memperlihatkan amal ibadahnya. Ia bahkan berupaya menyembunyikan ibadahnya. Ketika ada orang menemuinya sedang ia sedang memegang mush’af al-Qur’an, ia menutupinya dengan kain agar tak terlihat. Rabi’ tidak melakukan shalat sunnah di masjid jami’. Ia hanya satu kali orang-orang melihatnya mengerjakan shalat sunnah. Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah telah mencapai tingakt rasa takut kepada Allah Azza Wa Jalla yang sangat tinggi. Hatinya selalu dipenuhi oleh khasyatillah (takut kepada Allah). Orang yang keadaan seperti itu, pasti akan ringan bagi dari segala musibah dan ujian dunia.

Suatu kali. Rabi’ pergi bersama dengan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Mereka berdua melihat tukang besi. Mereka berdua melihat besi yang sedang menyala dan ditempa. Lalu, Ibnu Mas’ud melanjutkan ke tempat lain. Sampai ditepian sungai Eufrat. Ditepian sungai yang membelah kota Bagdad itu, mereka bertemu dengan seorang pandai besi yang mengerjakan pembuatan perkakas. Saat melihat api yang menyala-nyala itu, Abdullah bin Mas’ud membacakan ayat al-Qur’an : “Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan, apabila mereka dilemparkan ketempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan”. (al-Furqan :25:12-13). Saat itu, tiba-tiba Rabi’ pingsan, dan digotong ke rumahnya. Abdullah bin Mas’ud menunggui sampai dhuhur. Belum juga siuman. Sampai ashar belum juga siuman. Dilanjutkan sampai magrib. Belum juga siuman. Baru sesudah itu, Rabi’ siuman, kemudian Abdullah bin Mas’ud meninggalkannya. Itulah kondisi orang-orang yang bertaqwa.

Seorang dari Bani Taymillah bercerita, dan pernah mendampingi Rabi’ selama dua tahun. Selama dua tahun itu, orang menceritakan, bahwa Rabi’, hanya berbicara satu kali, yang berkaitan dengan dunia, dan dalam bentuk pertanyaan. “Apakah ibumu masih hidup? Berapa masjid dilingkunganmu?”. Orang yang hatinya sibuk dengan zikrullah, tak memiliki kesempatan menyebut-nyebut dunia.

Pernah Rabi’ terkena penyakit lumpuh dalam waktu yang lama. Suatu ketika ia ingin makan daging ayam. Namun, ia menahan keinginannya itu selama empat puluh hari. Baru, ia berkata kepada istrinya : “Aku ingin makan daging ayam sejak empat puluh hari yang lalu, agar keinginanku dapat diredam”, ucapnya. “Subhanllah.Mengapa itu tidak engkau lakukan?”, sahut istrinya. Maka, istrinya menyuruh seseorang pergi ke pasar membeli ayam. Lalu, disembelihnya ayam itu. Usai menyembelih ayamnya, lalu memasak ayam itu, dan dicampur dengan roti, kemudian istrinya menghidangkan masakan itu kepada suaminya.

Betapa. Saat Rabi’ akan makan hidangan ayam beserta roti, di depan pintu datanglah seorang pengemis dan meminta- “Berikanlah ini kepadanya. Semoga Allah Azza Wa Jalla memberkahi”, kata Rabi’ kepada istrinya. “Subhanallah”, sahut istrinya. “Sudahlah. Berikan kepada dia”, kata Rabi’. Isterinya lalu berkata : “Kalau begitu aku akan melakukan hal-hal yang lebih baik”, tukas istrinya. “Apa?”, tanya Rabi’ kepada istrinya. “Aku akan memberikan uang seharga makanan ini”, jawab isterinya. Setelah isterinya menyerahkan uang itu kepada pengemis itu, lalu Rabi’ berkata :”Berikanlah uang berikut makanan itu seluruhnya”.

Suatu hari datang seoran laki-laki ke rumahnya meminta nasehat. Rabi’ rahimahullah mengambil kertas lalu menulsikan kata-kata : “Katakanlah, marilah kebucakan apa yang diharamkan Tuhanmu,yaitu : Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu (ibu-bapak), dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin. Kami akan memberi rezeki kepada kamu dan mereka,dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan keji, janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah, melainkan dengan sebab yang benar”.

Rabi’ bin Khutsaim telah memberikan teladan. Memberikan pelajaran. Memberikan arahan. Semua menjadi jalan menuju kehidupan yang diridhai Allah Azza Wa Jalla. Tak ingin mendapatkan murkaNya, kelak di akherat nanti. Wallahu ‘alam.

(judul asli : Adakah Amalmu bermakna. oleh :Mashadi http://eramuslim.com Kamis, 25 Sep 2008 15:19)

Read Full Post »

Kitab Al-Bidayah wan Nihayah

Judul asli : Tartib wa Tahdzib Kitab Al-Bidayah wan Nihayah
Pengarang : Ibnu Katsir
Penyusun : Muhammad bin Shamil As-Sulami

Judul Terjemah : Al-Bidayah wan Nihayah, masa Khulafaur Rasyidin
Penerjemah : Abu Ihsan Al-Atsari
Muraja’ah : Ahmad Amin Sjihab, Lc.
Penerbit : Darul Haq, Jakarta, Cet. I, 1424 H/ 2004 M
Tebal : xxi+559 hal (Hard Cover – Lux)
———————————————————

- Benarkah Khalifah Pertama Abu Bakar Ash-Ashiddiq diracun hingga menyebabkan kematian beliau?
- Benarkah penyebab umar bin Khaththab mencopot khalid bin walid dari jabatannya sebagai panglima pasukan karena adanya intrik pribadi antara keduanya?
- Benarkah isu-isu tendensius yang menyebutkan bahwa Utsman bin Affan lebih mengutamakan karib kerabat untuk memegang jabatan-jabatan strategis dalam pemerintahan seperti yang dituduhkan sebagian orang?
- Apa yang melatarbelakangi peperangan Jamal yang terjadi antara Ali bin Abi Tholib dengan az-Zubair, Thalhah dan ‘Aisyah ?
- Dan Apa pula yang melatarbelakangi peperangan antara Ali bin Abi Tholib dengan Mu’awiyyah hingga menyebabkan kematiannya?

Begitu banyak isu-isu kontroversional yang disebutkan dalam buku-buku sejarah, namun banyak yang perlu diluruskan. Yang disebutkan diatas hanyalah sebagian kecil dari penyimpangan sejarah. Sementara, sejuta pertanyaan lain masih menggelayut dalam benak menuntut sebuah jawaban. Dimanakah jawabannya?

Buku yang hadir di hadapan pembaca ini memberikan jawabannya. Dipetik dari buku al-Bidayah wan Nihayah, sebuah karya monumental seorang ulama besar yang tidak asing lagi; Al-Hafidz Imaduduin Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir.

Sebagai pembukan, buku ini dimulai dengan metode penyusunan dan penyuntuingan, biografi Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir dan Kitabnya Al-Bidayah Wan Nihayah serta metode dan referensi yang digunakan.
Dalam buku ini pembaca dapat membaca sejarah khulafa’ur rasyidin dan dapat menyaksikan masa-masa keemasan Islam yang disajikan secara apik oleh Dr. Muhammad bin Shamil as-Sulami. Mudah-mudahan kehadiran buku ini dapat meluruskan sejarah-sejarah yang banyak diselewengkan oleh tangan-tangan jahil.

Kitab ini memaparkan kisah-kisah para sahabat pada masa khulafaur rasyidin seperti Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali ra.  Insya Allah kitab ini akan membuka wawasan baru serta dapat memberikan jawaban atas pertanyaan tentang fitnah al kubra yang selama ribuan tahun menggelayuti umat Islam.
Jika belum sempat memiliki kitab ini, maka Anda sudah dibantu oleh Saudara kita  di http://kampungsunnah.co.nr yang telah berjasa men-scan kitab tersebut menjadi e-book. Semoga menjadi catatan amaliyah disisi Allah. Download e-book disini.

Read Full Post »

Utsman bin Mazh’un

Ia termasuk sahabat Rasulullah yang hijrah ke Abessinia. Ia rela menerima siksaan kaum Quraisy demi membela agama Allah

Ketegaran Utsman bin Mazh’un tercatat dalam perjalanan sejarah perkembangan Islam. Ia tercatat sebagai orang yang berani melawan penderitaan dengan tetap mempertahankan imannya.

Ustman bin Mazh’un adalah seorang sahabat Rasulullah yang hijrah ke Abessinia atau Habasyah yang kini dikenal dengan sebutan Ethiopia. Ia bersama 80 sahabat Rasulullah hijrah ke negara yang memeluk agama Kristen ini atas perintah Rasulullah. “Tempat itu diperintah oleh seorang raja dan tak ada orang yang dianiaya di situ. Itu bumi jujur sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua, “sabda Rasulullah. Raja Negus, penguasa Abessinia kala itu, menerima dengan baik kedatangan kaum muslimin. Bahkan dua utusan kaum Quraisy yang datang membujuk Raja Negus, Amr ibnul ‘Ash dan Abdullah ibnu Abdi Rabi’ah, gagal total meminta mereka kembali ke Mekah. Ja’far bin Abi Thalib berhasil menjelaskan dan meyakinkan Raja Negus tentang agama Islam dan sikapnya terhadap penganut Kristen dan Isa Almasih.

Namun, setelah beberapa saat tinggal di Abessinia, mereka lantas mendengar kabar gembira dengan masuknya sebagian pemimpin kaum Quraisy Mekah ke dalam agama Islam.

Kaum muslimin yang telah hijrah pada tahun kelima masa kenabian itu (sekitar tahun 615 Masehi) mulai tertarik untuk kembali ke Mekah. Mereka telah merindukan tanah kelahiran mereka yang telah lama mereka tinggalkan. Setelah mendapat izin Raja Negus mereka kembali ke Mekah melalui lautan.

Tapi belum lagi memasuki kota Mekah, mereka akhirnya tersadar bahwa mereka telah tertipu informasi kaum Quraisy yang menyesatkan. Berita itu sengaja diembuskan kaum Quraisy agar kaum muslimin mau kembali ke Mekah. Mereka takut kedudukan kaum muslimin semakin kuat dengan menjalin hubungan dengan Raja Negus.

Kaum Quraisy menyambut kaum muslimin yang tengah dimabuk rindu ke Tanah Suci Mekah itu bukan dengan sambutan hangat, tapi dengan senjata. Kaum muslimin benar-benar terjebak dan tak bisa berbuat apa-apa, karena posisi mereka yang sangat lemah. Mereka lantas menyerang kaum muslimin yang tak siap itu. Berbagai siksaan lantas diterima kaum muslim.

Tapi, nasib buruk itu ternyata justru tak menimpa Utsman bin Mazh’un. Sebab, pamannya, Walid bin Mughirah, tanpa sepengetahuan Utsman, telah memberikan jaminan keamanan. Karena itu tak satu pun orang Quraisy yang berani mengganggunya, hingga ia masuk kota Mekah. Perlindungan waktu itu merupakan tradisi masyarakat Arab. Siapa pun dan seberapa rendah kelas seseorang, jika masuk dalam perlindungan tokoh waktu itu, mereka akan aman. Tidak boleh mendapat gangguan sekecil apa pun.

Namun, saat itu ia tak bisa menyaksikan penderitaan dan penyiksaan yang diterima saudara-saudara sesama muslim yang berangkat bersamanya ke Abessinia. Melihat kejadian itu hatinya berontak. Ia tidak bisa merasakan ketenangan dengan mendapatkan keistimewaan sendiri. Ia lantas menghadap Walid bin Mughirah.

“Wahai Abu Abdi Syam (sebutan penghormatan bagi Walid bin Mughirah), sejak saat ini aku melepaskan perlindungan yang telah engkau berikan padaku. Karena aku tidak ingin mendapatkan perlindungan selain dari-Nya. Umumkanlah hal ini, seperti waktu engkau umumkan perlindungan atasku sebelumnya,” kata Utsman dengan suara lantang. Walid tak menyangka kemenakannya akan mengatakan itu.

Walid lantas melepas perlindungannya itu dan segera mengumumkan kepada warga Mekah. Kaum Quraisy lantas berdatangan ke arahnya dan mulai menyiksanya. Utsman menerimanya dengan lapang dada. Ia bangga karena ia kini menerima nasib sama dengan saudara-saudara seimannya. Ia nikmati siksaan demi siksaan itu bagaikan belaian.

Siksaan demi siksaan diterimanya persis di depan sang paman. “Ayolah, Utsman, kalau kamu menghendaki keselamatan, masuklah ke dalam perlindunganku kembali.”

Tapi, Utsman menolak tawaran itu. Dengan tenang ia berkata, “Mataku yang sehat ini memerlukan pukulan seperti yang telah dirasakan saudara-saudaraku seiman. Sebenarnya aku berada dalam perlindungan Allah, yang lebih kuat dari perlindungan yang bisa engkau berikan untukku.”

Setelah berbagai siksaan dan pukulan dia terima dengan tabah, ia mengikuti perintah Rasulullah untuk berangkat hijrah ke Medinah, bersama beberapa sahabat lainnya. Ia berangkat mendahului Rasulullah yang berhijrah bersama Abu Bakar.

Bersamaan dengan kemajuan Islam di kota ini, Utsman juga tercatat sebagai sahabat yang cukup menonjol. Ia laksana batu mulia yang tak bernilai harganya. Utsman adalah orang yang ahli ibadah dan seorang zahid, waktunya habis untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sepanjang siang dan malam ia habiskan waktu untuk shalat, membaca Al-Quran, dan puasa.

Pada suatu hari ia masuk ke dalam masjid dengan pakaian yang compang-camping, robek dan penuh dengan tambahan kulit unta. Peristiwa itu terjadi tepat di hadapan Rasulullah. Hati Rasulullah pilu tersayat menyaksikan hal itu.

Rasulullah lantas bersabda kepada para sahabatnya, “Apa pendapat kalian bila memiliki satu pasang pakaian untuk pagi dan sore diganti dengan pasang pakaian lainnya. Kemudian disiapkan di depan kalian seperangkat wadah makanan sebagai ganti perangkat lainnya.”

Maka seorang sahabat menjawabnya dengan senang hati. “Kami ingin hal itu terjadi hingga kita dapat hidup makmur dan bahagia.”

Rasulullah pun kembali bersabda, “Sebenarnyalah itu telah terjadi. Keadaan kalian saat ini, sudah lebih baik dari keadaan kalian sebelumnya.

Sabda Rasul itu juga didengar Utsman, dan semakin membuatnya tekun menjalani hidup bersahaja dan menghindari kesenangan hidup duniawi. Bahkan, ia juga hendak menghindari menggauli istrinya. Tapi, Rasulullah mendengarnya, dan bersabda, “Inna liahlika ‘alayka khaqqan.” (Sesungguhnya keluargamu itu memiliki hak atas dirimu).

Ketika ia hampir menemui ajalnya, kecintaan dan rasa sayang Rasulullah terlihat jelas kepadanya. Rasulullah membungkuk mencium keningnya. Air mata Rasulullah runtuh dan membasahi kedua pipi Utsman. Utsman wafat dengan tenang dan tercatat sebagai orang Muhajirin pertama yang meninggal di Medinah.

Bahkan, saat putri Rasulullah, Ruqayyah, yang juga istri Utsman bin Affan, menjelang wafat, Rasulullah bersabda, “Pergilah, dan susullah pendahulu pilihan kita, Utsman bin Mazh’un.”

 

Read Full Post »

Sa’ad bin Abi Waqqash

Ketika sedang berkumpul dengan para sahabat, Rasulullah SAW berkata, “Seorang penghuni surga akan muncul.” Siapakah dia?

Sepeninggal Rasulullah SAW, tongkat kepemimpinan dilanjutkan oleh para sahabat. Mulai dari Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, hingga Ali bin Abi Thalib. Itu merupakan zaman keemasan Islam. Dan periode kekhalifahan Umar merupakan masa yang paling gemilang dalam risalah dakwah Islam, karena penyebaran Islam hampir keseluruh penjuru dunia.

Adalah pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan terjadinya pertukaran duta antara Arab dan Cina. Utusan yang dikirim adalah Tsabit bin Qays dan sahabat Sa’ad bin Abi Waqas. Peristiwa ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan utusan kasiar Cina ke Madinah berberapa tahun sebelumnya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 651 M.

Pada tahun 684 M, tiga puluh tiga tahun setelah kedatangan Sa’ad, berdirilah masjid di ibu kota Chang’an (Xi’an), yang diberi nama Huejuexiang. Peresmian berdirinya masjid ini dilakukan dengan upacara kebesaran Cina.

Jauh sebelum itu, Nabi Muhammad SAW pernah mengutus sahabat Abdul Wahab bin Abi Kabsyah untuk melakukan dakwah di Cina. Di Kanton (Guangdong), dia menyebarkan Islam sampai akhir hayatnya.

Penduduk muslim yang tinggal di Xinjiang, di setiap bulan Juni dan Juli selalu mengunjungi makam Tsabit bin Qays di Lembah Xingxing, Hami, sekitar 600 km sebelah timur Urumqi, ibu kota Xinjiang, yang dikenal di antara penduduk muslim di sana sebagai “teman Nabi Muhammad”. Makam itu panjangnya 220 cm, lebar 152 cm, dan tinggi 150 cm. dibuat dari batu marmer dan ditutup dengan kayu yang diukir dengan gaya campuran arsitektur Arab dan Cina.

Tsabit bin Qays diyakini wafat pada tahun 655 M, ketika tengah menempuh “Jalur Sutra” arah ke barat. Oleh para pengikutnya, dia dimakamkan di Lembah Xingxing, sebelah timur Hami. Sampai kini, makam itu masih berdiri kokoh sebagai saksi bisu masuknya risalah dakwah Islam di Cina.

Banyak orang percaya, kunjungan sahabat Sa’ad dan Tsabit merupakan kontak resmi pertama Islam merupakan kontak resmi pertama Islam dengan Cina. Di Kanton, Sa’ad mendirikan sebuah masjid pertama dan dipercaya sebagai bentuk legalitas hubungan kedua kebudayaan.

Seiring perjalanan waktu, hubungan itu diformalkan dengan pertukaran duta besar dan melakukan misi perdagangan. Kedua negera saling mendapatkan keuntungan dari hubungan tersebut.

Ketika telah mencapai umur 80 tahun, Sa’ad bersiap-siap menghadap Allah. “Kepalanya berada di pangkuanku ketika ia tengah sekarat. Aku menangis terisak-isak,” tutur Al-Aqiq, anaknya.

“Apa yang kau tangisi, anakku. Allah tidak akan pernah menyakitiku, aku termasuk penghuni surga,” katanya lirih sambil memandang ke sebuah sudut. Di sana terdapat sebuah peti tua.

Masalah penghuni surga itu, Rasulullah telah memberitahukan kepada para sahabat jauh-jauh hari sebelumnya.

Pada suatu hari ketika Rasulullah sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba beliau menatap ke ufuk dan berkata, “Seorang penghuni surga akan muncul.”

Ketika para sahabat mencari di sekeliling siapa yang dimaksud Nabi, tiba-tiba Sa’ad muncul.

Kepada Abdullah bin Amr, yang menanyakan “rahasia” sehingga mendapat jaminan surga. Sa’ad mengatakan, “Ibadah yang aku kerjakan juga dikerjakan yang lain, kecuali aku tidak pernah menaruh dendam atau berniat jahat terhadap kaum muslimin.”

“Bukalah peti tua itu,” pintanya. Ternyata di dalamnya tersimpan sebuah jubah tua.

“Dengan jubah itulah aku bertempur menghadapi orang musyrik di Perang Badr dan Perang Uhud…. Dan aku telah menyimpannya untuk keperluan hari ini.” Dengan jubah itulah Sa’ad bin Abi Waqqash dikafani.

Sa’ad, yang dikaruniai umur panjang, terlibat dalam berbagai momen penting. Seperti pemilihan Utsman bin Affan sebagai khalifah ketiga dan terlibat dalam Perang Qadisiyah, pintu gerbang Persia, yang saat itu masih memeluk agama Majusi. Hampir seluruh hidupnya dijalani di medan perang, membela agama Allah dan Rasul-Nya. Ia ingin menghadap Tuhan dengan jubah yang sangat mengesankan dan memberinya kemuliaan itu.

Jasad orang ketiga yang masuk Islam dan kemudian dikenal sebagai ksatria berkuda yang pemberani itu dimakamkan di Baqi, Madinah, di samping para sahabat yang telah mendahuluinya. 

Read Full Post »

Abdullah bin Amr bin Ash

Kenapa Sesama Muslim Saling Membunuh?

Dalam Perang Shiffin, Abdullah terpaksa mengikuti kemauan ayahnya, namun ia berjanji tidak akan membunuh sesama muslim. Niatnya cuma satu: ingin mati syahid.Suatu ketika Nabi Muhammad bertanya kepada sahabat Abdullah bin Amr bin Ash, “Benarkah kamu selalu berpuasa di siang hari dan tidak pernah berbuka?”“Benar,” jawabnya.“Cukuplah berpuasa tiga hari dalam sebulan,” kata Nabi.Sebagai orang muda yang penuh vitalitas, Abdullah menanggapinya itu dengan nada bangga. “Aku sanggup melakukan lebih banyak dari itu,” katanya.Nabi memahami sikap orang muda ini, namun beliau memberikan saran yang lebih ringan lagi. “Kalau begitu, kamu cukup berpuasa dua hari dalam seminggu.”Namun lagi-lagi Abdullah berkata, “Aku sanggup lebih banyak lagi.”“Jika demikian, lakukanlah puasa yang lebih utama, yaitu puasa Nabi Daud: Puasa sehari, lalu berbuka sehari.”Setelah berdiam sejenak, Nabi melanjutkan dengan pertanyaan, “Benarkah kamu membaca Al-Quran sepanjang malam sampai tidak tidur?”“Benar,” jawab Abdullah.“Perbuatanmu itu baik sekali. Tetapi aku khawatir kamu akan jenuh membaca Al-Quran, terutama bila kamu telah tua nanti.”Selanjutnya Nabi menyarankan, “Sebaiknya kamu membaca Al-Quran sampai khatam selama satu bulan. Kalau kamu bisa lebih cepat, khatam dalam sepuluh hari. Dan kalau bisa lebih cepat lagi, khatam dalam tiga hari.”Abdullah diam terpekur. Ia berusaha memahami saran-saran tersebut.Kemudian Nabi mencontohkan dirinya sendiri.” Aku puasa dan berbuka. Aku shalat dan tidur. Aku menikahi perempuan. Ketahuilah, tubuhmu juga punya hak untuk istirahat. Maka siapa yang tidak suka sunnahku, tidak akan termasuk dalam golongan umatku.”Abdullah diberi usia panjang oleh Allah. Ia masih segar bugar ketika Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah keempat, dan ia ikut terlibat dalam Perang Shiffin. Sebuah tragedi perang saudara antar-umat Islam yang melibatkan Khalifah Ali dengan pembangkang Muawiyah.Perang ini memberi kenangan yang buruk bagi Abdullah. Ia menyesali keterlibatannya dalam perang tersebut.Keterlibatan Abdullah dalam Perang Shiffin adalah karena ajakan ayahnya, Amr bin Ash. Amr, yang dekat dengan Muawiyah, memang berambisi ingin menduduki jabatan gubernur di Mesir. Sementara anaknya, Abdullah, dikenal seluruh kaum muslimin di Kufah sebagai orang yang sangat shalih beribadah. Maka, apabila diketahui kaum muslimin yang membela khalifah bahwa Abdullah berada di pihak Muawiyah, diharap dapat mengurangi kekuatan di kubu khalifah.“Hai Abdullah, bersiaplah untuk maju perang,” kata Amr bin Ash kepada anaknya. “Kamu berada di pihak kami (Muawiyah).”Tetapi rupanya Abdullah tidak terlalu antusias mengikuti ajakan ayahnya. “Bagaimana mungkin aku dapat berperang. Rasul telah mengamanahkan kepadaku untuk tidak menggunakan senjata terhadap kaum muslimin.”“Perang ini bukan untuk membunuh sesama kaum muslimin,” kata ayahnya, berusaha meyakinkan anaknya. “Melainkan untuk menangkap dan membalas para pembunuh Khalifah Usman.”Ketika Abdullah tetap tidak mau mengikuti ajakan itu, Amr menggunakan kesempatan itu untuk mengingatkan pertemuan mereka di hadapan Rasul beberapa tahun lalu.” Ingatkah kamu bahwa kamu akan menaati perintah bapakmu?”Abdullah terpaksa mengikuti kemauan ayahnya, namun ia berjanji tidak akan membunuh sesama muslim. Niatnya cuma satu: ingin mati syahid. Maka ia berusaha untuk selalu berada di garis depan.Tetapi Allah masih memeliharanya, ketika perang berakhir ia masih segar bugar. Ia terpaksa meninggalkan peperangan karena kecewa berat oleh sebuah peristiwa yang sangat menyinggung perasaannya.Peristiwa itu adalah meninggalnya Ammar bin Yasir, seorang komandan pasukan Khalifah Ali yang umurnya sudah sangat tua, 90 tahun. Ia mati syahid sebagai sasaran tombak orang dari Bani Silsik yang berpihak kepada Muawiyah. Ketika badan Ammar terkulai, muncul seorang lagi yang menebaskan pedangnya ke leher Ammar hingga ia tewas seketika sebagai syuhada. Konon kedua orang itu terkenal sebagai orang kaya yang sangat dendam kepada Ammar karena Ammar selalu mengingatkan bahwa di dalam harta orang-orang kaya terdapat hak orang miskin yang harus dibayarkan.Begitu mendengar kabar bahwa Ammar gugur, Abdullah mengingatkan orang-orang Muawiyah terhadap nubuat atau peringatan Nabi beberapa tahun sebelumnya bahwa orang yang membunuh Ammar termasuk golongan orang durhaka dan pasti masuk neraka.Mendengar ucapan Abdullah itu Muawiyah kontan marah besar. “Mengapa kamu biarkan anakmu yang gila itu berbicara seperti itu,” kata Muawiyah kepada Amr bin Ash. Sedang kepada Abdullah ia ingin tahu, “Mengapa kamu turut berperang di pihak kami?”“Kalau aku di sini bersamamu,” jawab Abdullah, “itu karena aku menuruti perintah Rasul agar aku taat kepada bapakku, tapi bukan untuk berperang.”

Kemudian, sambil menghadapkan muka kepada ayahnya, Abdullah berkata, “Seandainya Rasul tidak menyuruhku taat kepadamu, aku tak ‘kan ikut bersamamu.”Ternyata kematian Ammar bin Yasir itu menjadi bahan pembicaraan di kalangan tentara Muawiyah yang apabila dibiarkan akan membahayakan Muawiyah sendiri. Oleh karena itu bersama Amr bin Ash ditiupkan cerita yang diputarbalikkan.“Benar bahwa kematian Ammar karena perbuatan orang durhaka. Tetapi siapakah orang yang durhaka itu? Ia adalah orang yang mengajak Ammar untuk berperang,” kata Muawiyah kepada pasukannya. Maksud kata-kata itu adalah Khalifah Ali sendiri. Dalam suasana kacau balau, logika semacam itu dapat dengan mudah diterima akal, sehingga tidak timbul pertanyaan macam-macam dan pertempuran dapat berjalan lagi.Namun, logika ayahnya dan Muawiyah itu tidak dapat diterima Abdullah. Ia kemudian memilih mundur dari peperangan dan kembali ke masjid. Ia menyesali nasibnya yang malang sehingga dapat terlibat dalam Perang Shiffin. “Apa yang telah aku perbuat dalam perang itu?” pikirnya dalam hati. “Kenapa sesama orang Islam saling membunuh?”Dia kemudian banyak merenung dan mawas diri sambil melaksanakan ibadah-ibadah seperti sebelumnya.Abdullah meninggal dunia dalam usia 72 tahun di sebuah mushalla ketika sedang bermunajat. Senyum yang tersunggig di bibirnya menunjukkan bahwa jiwanya tenang ketika menghadapi sakaratul maut.

 

Read Full Post »

Abu Hurairah

Perawi hadist yang tidak bisa menulis.

Dengan daya ingatnya yang tajam, dia berhasil mendapatkan, mengoleksi, dan menyebarluaskan hadis, riwayat, dan perilaku Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat. Kedekatannya dengan Rasulullah membuat ia dianggap bayangan Nabi sendiri.

Hentikan pembicaraanmu tentang riwayat Rasulullah, kalau tidak kamu aku pulangkan ke kampungmu.” Kata Khalifah Umar bin Khattab suatu kali kepada Abu Hurairah. Ucapan itu mengandung kegusaran sang khalifah karena ia merasa terganggu dengan kegiatan Abu Hurairah yang sering mengungkapkan hadis dan riwayat Nabi kepada kaum muslimin pada tiap kesempatan. Masalahnya ketika itu Umar sedang mensosialisasikan Al-Quran yang sudah dihimpun dalam suatu kitab (mushaf) kepada kaum muslimin. Beliau tidak ingin kaum muslimin terganggu pikirannya dengan adanya bacaan lain selain Al-Quran.

Hal ini bisa dimaklumi karena ketika Umar memegang jabatan khalifah, perkembangan Islam baru dalam tahap awal, namun ancaman dari kaum Quraisy tetap tinggi. Mereka tidak segan-segan melakukan pembunuhan kepada orang-orang Islam yang dijumpai di mana saja. Tugas khalifah bukan hanya melindungi kaumnya tetapi juga mengisi jiwa mereka dengan kalam Ilahi, dalam hal ini Al-Quran. Apalagi tingkat kecerdasan mereka masih rendah. Untuk tidak mengaburkan pendalaman mereka terhadap wahyu-wahyu Ilahi, Umar menghendaki agar sosialisai Al-Quran itu tidak dicampuri dengan bacaan-bacaan lain.

Abu Hurairah sendiri merasa bahwa keberatan khalifah itu ada benarnya. Namun ia juga merasa memiliki kewajiban untuk menyampaikan hal-hal yang diketahuinya yang berasal dari Nabi SAW. Ia tidak ingin menyembunyikan hadis-hadis yang diyakininya benar karena ia mendapatkannya langsung dari Nabi. Ia merasa berdosa bila hadis-hadis itu tidak diungkapkan kepada kaum muslimin.

Apalagi, kala itu, ada usaha dari Ka’ab Al-Akhbar yang selalu melebih-lebihkan hadis Rasulullah sehingga membingungkan kaum muslimin yang mendengarnya. Ka’ab adalah orang Yahudi yang masuk Islam, namun karena ulahnya itu mendorong orang lain untuk memalsukan hadis demi kepentingan pribadi yang jelas tidak sejalan dengan ajaran agama Islam. Mereka ini tidak segan-segan memanfaatkan nama Abu Hurairah, seolah-olah hadis yang mereka palsukan itu berasal dari Abu Hurairah.

Timbulnya hadis palsu ini sebenarnya juga tidak luput dari perhatian Kalifah Umar. Beliau bahkan telah mengemukakan gagasan bahkan telah mengemukakan gagasan untuk menuliskan hadis-hadis Nabi dalam suatu kitab. Namun karena pertimbangan tidak ingin membuat kerancuan tentang Al-Quran pada jemaahnya, ide itu tidak direalisasikan. Akibatnya pemalsuan hadis menjadi-jadi. Satu abad kemudian dua orang perawi hadis yaitu Imam Bukhari menemukan 600.000 hadis dan Abu Dawud menemukan 500.000 hadis. Setelah diseleksi hanya ada 40.000, dan 4.800 hadis yang sahih.

Abu Hurairah adalah nama panggilan yang diberikan teman-teman dekatnya karena kecintaannya kepada kucing. Begitu sayangnya kepada binatang yang satu ini sampai-sampai ia menyuapi, memandikan, dan menyediakan kandang. Abu Hurairah artinya Bapak Kucing Kecil. Nama aslinya adalah ‘Abdus Syams (Hamba Matahari). Namun, setelah masuk Islam Nabi SAW memberi nama Abdurrahman (Hamba Allah, yang Maha Pemurah).

Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga miskin sebagai anak yatim. Sejak bertemu dengan Nabi pada tahun ketujuh kenabian, ia langsung masuk Islam dan boleh dibilang tidak pernah berpisah dengan beliau. Namun ibunya menolak masuk Islam. Bukan itu saja, ibunya juga selalu menyudutkan Nabi sehingga menyakitkan hati Abu Hurairah. Abu Hurairah mohon bantuan doa dari Nabi agar ibunya masuk Islam dan terkabul.

Mengenai kedekatannya dengan Nabi. Abu Hurairah menyatakan bahwa sebagai orang miskin ia tidak disibukkan dengan urusan tanah pertanian seperti halnya orang-orang Anshar atau urusan dagang di pasar seperti halnya orang-orang Muhajirin. “Jadi ketika mereka tidak bisa hadir (di samping Nabi) aku bisa, sehingga aku banyak menerima masukan dari beliau,” katanya.

Selain dekat dengan Nabi, Abu Hurairah memiliki daya ingat yang kuat yang diberkati Nabi sehingga tambah kuat. Itu sebabnya ia mampu menghafal di luar kepala semua hadis Nabi dan juga melaksanakannya sebagai pegangan hidup. Maka ia pun meriwayatkan hadis-hadis itu kepada kaum muslimin sebagai rasa tanggung jawab kepada Nabi dan agamanya secara terus-menerus sehingga Umar merasa “risi” ketika ia harus mensosialisasikan Al-Quran.” “Sibukkanlah dirimu dengan Al-Quran dan kurangilah meriwayatkan tentang Rasul kecuali amal perbuatannya,” kata Umar. Padahal menurut Abu Hurairah hadis juga mengandung kebenaran yang harus diungkapkan kepada umat.

Oleh Khalifah Umar ia diangkat sebagai gubernur di Bahrain. Menjelang akhir masa jabatan Umar memanggil pulang Abu Hurairah ke Medinah. Beliau menanyakan asal-muasal uang sepuluh ribu dinar yang ada dalam simpanan sang gubernur. “Uang itu berasal dari hasil penjualan anak-anak kuda milikku,” jawab Abu Hurairah.

“Serahkan uang tiu ke baitul maal”, perintah Umar. Umar memang terkenal sebagai khalifah yang sangat hati-hati memilih pembantu-pembantunya. Ia selalu mengingatkan para pembantunya agar tidak memperkaya diri dan hanya memiliki pakaian sebanyak dua setel, baik ketika diangkat maupun ketika mengakhiri jabatannya.

Abu Hurairah mematuhi perintah itu namun ia menolak ketika akan diangkat lagi sebagai gubernur d Bahrain. “Saya takut menghukum tanpa ilmu dan bicara tanpa kesabaran,” kilahnya.

Abu Hurairah menyadari bahwa aktivitasnya sebagai perawi hanya bisa disejajarkan dengan Abdulah bin Amr bin Al-‘Ash. Masalahnya, “Abdullah bisa menulis sedangkan aku tidak bisa,” katanya. Namun sekitan tahun kemudian peranan Abu Hurairah itu disakui oleh Imam Syafii dan Imam Bukhari. Kedua perawi ini sependapat bahwa Abu Hurairah adalah rujukan para sahabat dalam soal hadis Nabi. “Tidak ada orang yang mampu meriwayatkan hadis Nabi sebaik Abu Hurairah,” kata Imam Bukhari.

Pada tahun 59 H ia wafat pada usia 78 tahun, dikubur di pemakaman Baqi, yang tak begitu jauh dari makam Rasulullah di ujung kiri Masjid Nabawi di Madinah al-Munawwarah. 

Read Full Post »

Salman Al-Farisi

Jalan terjal dilalui Salman dalam meruntut jejak Tuhannya. Terpisah dari orang yang dicintai, dirampok, dan menjadi budak. Lalu turunlah rahmat Allah sebagai hadiah atas kesabarannya.

Salman al-Farisi adalah sahabat Rasul yang mahir mengatur strategi perang. Ia terkenal cerdas, seperti sahabat Nabi lain yang berasal dari Persia. Ini dibuktikan saat terjadi Perang Khandaq.

Menghadapi pasukan musuh yang berkoalisi, umat Islam berhasil meraih kemenangan. Dua puluh empat ribu pasukan musuh dibuat porak-poranda. Berkat parit yang diusulkan Salman disertai pertolongan Allah yang mendatangkan angin topan. Musuh-musuh agama Allah itu pulang dengan tangan hampa. Hati mereka kecewa karena kalah. Sejak itu nama Salman makin bersinar di kalangan sahabat. Pemuda dengan rambut panjang dan tubuh kekar itu memiliki kecerdasan akal.

Salman berasal dari Isfahan, tepatnya sebuah tempat yang bernama Jai di Persia. Ia dibesarkan dari lingkungan keluarga berkecukupan. Seluruh keperluan hidupnya terpenuhi.

Ia anak kesayangan orang tuanya. Bapaknya adalah tokoh berpengaruh dalam kabilahnya, yaitu sebuah masyarakat yang menyembah dan menjadikan api sebagai Tuhan alias Majusi atau Zoroaster.

Salman termasuk penyembah api yang setia. Sebagian hidupnya ia sedekahkan bagi kemuliaan agama leluhur. Merelakan dan menyerahkan dirinya menjaga api untuk tetap menyala.

Sebagai orang kaya dan terhormat, orang tua Salman memiliki banyak tanah. Bahkan karena banyak lahan yang dimiliki, ayah Salman tidak mungkin memeriksa tanahnya satu per satu. Kerap ia meminta Salman melakukan pekerjaan mengontrol sawah dan perkebunan itu.

Suatu hari, dalam perjalanan menuju kebun, Salman melewati sebuah gereja yang padat dengan jamaah. Mereka tengah khusyuk melakukan ibadah. Heran dan kagum tumbuh dalam hati Salman begitu menyaksikan cara sembahyang yang belum pernah dilihatnya. Cara beribadah lain yang membuat hati Salman penasaran.

Ia mengikuti kemauan kakinya melangkah untuk masuk ke dalam gereja tersebut. Makin dalam ia melangkah ke dalam gereja, tiba-tiba hatinya berbisik, menyatakan, cara sembahyang yang dilihatnya jauh lebih baik dari cara masyarakatnya selama ini.

Sehari lamanya Salman memperhatikan prosesi ibadah di gereja itu hingga lupa akan tugas yang diberikan sang bapak. Ia bahkan lupa pulang ke rumah sehingga orang tuanya mengutus pesuruh untuk menjemput.

Ketika kembali ke rumah gundah hatinya makin kuat terutama keraguan yang muncul dari lubuk hatinya setelah ia menyaksikan cara beribadah agama yang berasal dari Syuriah itu.

Sesampainya di rumah, bukan keadaan kebun yang dilaporkan Salman kepada sang bapak. Ia malah bercerita tentang pengalaman yang dijumpainya di gereja. Mendiskusikan dengan bapaknya, bahkan memuji agama baru itu di depan orang tuanya sehingga tak tahan. Ia lantas merantai dan mengurung Salman di sebuah gudang.

Perlakuan yang diterima membuat Salman meyakini kebenaran agama Nasrani terutama setelah sang bapak berbuat kasar karena kalah dalam diskusi. Salman lantas mengirim berita kepada jemaah pemeluk agama dari Syuriah itu. Ia menyatakan, dirinya telah menyembah Allah, seperti mereka. Ia juga meminta agar memberitahukan kepadanya bila ada rombongan Nasrani dari Syuriah yang datang agar bisa turut serta dengan mereka bila hendak kembali ke Syuriah suatu hari nanti.

Di luar dugaan, permintaan itu dipenuhi. Suatu hari datang kabar dari seorang pembantu Salman yang masih setia. Ia mengatakan, serombongan orang Syuriah akan kembali ke negara mereka. Berita itu sontak membuat hati Salman berbunga-bunga. Ia sangat gembira menerima berita itu. Angannya menerawang, membayangkan betapa ia bakal menjalani perjalanan yang menyenangkan.

Dengan sekuat tenaga diputusnya rantai yang membelenggu. Ia mendobrak gudang tempat ia dipasung. Lantas melarikan diri ke Syuriah bersama rombongan yang hendak menuju ke negara asal agama Nasrani itu. Selama menempuh perjalanan, semua hal yang terkait dengan agama Nasrani ia tanyakan kepada rombongan, satu per satu, dengan perasaan yang bahagia.

Sampai di sana, Salman menanyakan orang yang ahli dan tekun menjalankan agama mereka. “Orang itu adalah uskup dan pemimpin gereja,” kata mereka memberi jawab. Salman lalu datang kepadanya dan menceritakan kisah yang sudah dijalani, lantas menyerahkan diri dan mengabdi kepada uskup, sang pemimpin agama itu.

Setelah beberapa saat, Salman sadar akan perilaku buruk uskup itu. Meski sering berkhotbah, ia selalu menipu umatnya. Uskup itu mengumpulkan harta dengan alasan untuk amal buat dibagikan kepada orang miskin. Tetapi setelah harta itu terkumpul, sang uskup malah menyimpan untuk kepentingan diri sendiri. Hal itu terjadi berulang kali dan diketahui Salman secara pasti. Penipuan tersebut terjadi berkali-kali, terus-menerus, hingga sang uskup meninggal.

Sepeninggal uskup, masyarakat mengangkat pemimpin gereja yang baru. Ia orang yang baik dalam berperilaku. Saleh menjalankan perintah agama. Selalu tepat waktu melaksanakan peribadatan.

Perilaku ini membuat Salman kagum. Secara pelan tumbuh rasa cinta dan keikhlasan membantu uskup itu mengembangkan agama Nasrani. Terutama karena yang dilakukan dan yang dikatakan uskup sama benar dan baiknya. Sehingga ia rela melayani kebutuhan uskup itu setiap hari dengan ikhlas. Bertahun-tahun Salman melayaninya hingga datang waktu uskup itu menjelang ajalnya. Sebelum datang kematiannya, Salman menemuinya, “Ke mana sebaiknya saya pergi, untuk mengabdi sekaligus belajar agama kepada orang seperti Anda?” tanya Salman dengan suara parau.

Uskup itu menjawab, “Aku tidak mengerti ke mana seharusnya kamu pergi, anakku. Tetapi sepengetahuanku, tidak ada orang yang berperilaku sepertiku, kecuali seorang yang hidup dan tinggal di Mosul.”

Salman akhirnya berangkat ke Mosul, wilayah Irak. Sesampainya di sana ia ceritakan kisah perjalanan hidupnya. Ia mengabdi kepada orang yang ditunjukkan uskup sebelumnya sampai datang saat ajal hendak menjemput orang itu. Sebelum uskup itu meninggal Salman telah bertanya, ke mana ia harus pergi sepeninggalnya nanti. Orang itu berkata agar Salman pergi ke Amurian di Byzantium. Sesampainya di sana, Salman segera menemui orang yang ditujunya. Hingga ia tinggal, mengabdi, sembari beternak lembu dan domba.

Ketika dia harus meninggalkan Byzantium karena ajal telah mendekati bapak angkatnya, Salman gundah. Ia tak tahu harus ke mana. Sampai akhirnya, ayah angkat itu pun berkata, “Hai anakku, aku tidak tahu siapa orang yang sejalan denganku sehingga aku tidak tahu ke mana kau harus pergi. Tetapi kau sudah dekat dengan masa di mana akan datang nabi pengikut Nabi Ibrahim. Ia akan hijrah ke tempat yang banyak ditumbuhi pohon kurma. Ikutilah dia. Karena dia mudah dikenali. Ia tidak makan sedekah, tetapi ia mau menerima hadiah. Di antara dua pundaknya terdapat tanda-tanda kenabian.”

Pada hari berikutnya, secara kebetulan lewat serombongan orang yang menuju ke Jariah Arab. “Aku berikan domba dan lembu ini pada kalian jika kalian mau membawaku ke negeri asal kalian,” kata Salman kepada pemimpin rombongan. Mereka setuju membawa Salman turut serta. Sehingga sampailah Salman di Wadi Al-Quro.

Tetapi hati Salman sedih. Ia merasa telah ditipu. Sebab, ternyata mereka telah menjual Salman kepada seorang Yahudi sebagai budak belian. Begitupun Salman masih berharap. Ia yakin, pesan yang disampaikan bapak angkat yang terakhir bakal menjadi kenyataan. Karena dia melihat banyak pohon kurma tumbuh di sekitarnya. Tetapi impian itu ternyata masih jauh dari kenyataan. Karena ia tetap tinggal di Wadi Al-Quro, bersama orang Yahudi yang membelinya.

Setiap hari ia harus bekerja sebagai budak. Berbagai pekerjaan berat harus dia lakukan. Sekali saja membantah majikan, tangan, cambuk, atau caci maki, pasti akan diterimanya. Itu berjalan terus-menerus.

Seperti sudah digariskan, beberapa lama setelah itu, Salman dijual pemiliknya. Kali ini ia dibeli orang dari Bani Quraidhah yang tinggal di Medinah. Suatu hari, ketika dia sedang memetik kurma, datang sepupu tuannya sambil terbirit-birit. Ia mengabarkan, “Aku lihat dengan mataku sendiri, banyak orang berkerumun mengelilingi seorang lelaki yang datang dari Mekah dan mengaku sebagai nabi.”

Secara tidak sadar tubuh Salman bergetar setelah mendengar berita itu. Ia bahkan nyaris terjatuh menimpa tuannya yang ada di bawah. Pada malam harinya, Salman segera mengumpulkan barang-barang yang ia punya. Lantas pergi ke Quba, pinggiran kota Yastrib, untuk menemui laki-laki yang disebut nabi itu.

“Saudara-saudara adalah pendatang. Saya yakin, Tuan-tuan memerlukan makanan. Terima dan makanlah sedekah saya ini,” kata Salman. Seseorang dari mereka lantas menerima makanan itu. Lalu ia menyerahkan makanan sedekah itu kepada para sahabat. Sementara Nabi sendiri tidak ikut menikmatinya.

Keesokan harinya Salman kembali menemui rombongan itu. “Saudaraku, semalam saya melihat Anda tidak mau makan sedekah yang aku berikan, terimalah ini makanan dariku sebagai hadiah buat Anda,” kata Salman dengan hati-hati.

Tak lama berselang, orang yang semalam menerima itu kembali menerima bingkisan yang dibawa Salman. “Atas nama Allah makanlah hadiah ini,” kata sipenerima sembari ikut menikmati makanan yang diterimanya.

Pada hari yang lain Salman kembali datang. Dillihatnya, orang yang sudah dua kali menerima makanannya mengenakan dua lembar kain dipundak. Sembari membungkuk, Salman mengucap salam kepadanya. Tanpa dinyana, orang itu malah menyingkapkan kain penutup itu, sehingga terlihat tanda-tanda kenabian, seperti yang disampaikan pendeta Nasrani itu.

Lutut Salman lantas bergetar hebat. Ia lantas semakin mendekat ke arah Rasulullah, menangis, seraya mencium tangannya. Menceritakan semua kisah dan kejadian yang telah dia alami. Seketika itu ia menyatakan diri sebagai pengikut Muhammad dan mengucapkan dua kalimah syahadat.

Read Full Post »

Hamzah, Paman Nabi

Mengetahui bahwa kemenakannya dianiaya, Singa Gurun itu marah. Seandainya Muhammad itu orang lain, atau unta yang tersesat dari pegunungan terpencil, ia pun pasti akan murka mendengar perbuatan Abu-Jahal yang sewenang-wenang itu.

Walaupun, menurut silsilah Hamzah adalah seorang paman, usia-nya tidak jauh berbeda dengan Muhammad SAW. Ia paman paling muda. Di kalangan para jawara Quraisy, ia termasuk seorang jagoan yang paling ditakuti, selain Umar bin Khaththab. Ia bahkan diunggulkan untuk mengimbangi sejumlah pemuda Quraisy yang telah menjadi pemeluk agama Islam. Dengan Hamzah masih berada di kubu kaum musyrikin, Abu Jahal merasa kuat dan berani malang-melintang, mengejek, dan menyiksa bekas anak buahnya yang telah menyeberang sebagai pengikut Muhammad.

Namun, Hamzah adalah Hamzah, putra Abdul Muthalib. Meskipun dengan ayah Muhammad ia tidak seibu, karena dilahirkan dari istri Abdul Muthalib yang bernama Halah, sedangkan Abdullah dari istri tua yang bernama Fatimah, rasa kekeluargaannya dengan Muhammad sangat melekat. Apalagi ia bukan saja seorang paman, melainkan juga saudara sepersusuan, sebab waktu kecilnya pernah menjadi anak asuh Tsuwaibah dn Halimatus Sa’diyah, yang juga menyusui Muhammad semasa bayinya.

Dari itu, bisa dibayangkan, alangkah berangnya Hamzah ketika Salma, sahaya Shafiyah binti Abdul Muthalib, datang kepadanya seraya berkata terpatah-patah, “Wahai Hamzah, Abu Amarah. Gelarmu adalah Biang Kemarahan. Maka engkau pasti amat murka bila menyaksikan bagaimana si terkutuk Abu Jahal, Biang Kebodohan itu, menyiksa kemenakanmu dengan semena-mena.”

Muka Hamzah memerah. Sebab sudah sering didengarnya keganasan Abu Jahal terhadap kemenakannya itu. “Apakah kamu menyaksikan sendiri Abu Jahal menganiaya Muhammad?”

Budak perempuan itu mengangguk. “Demi Allah, tidak ada perbuatan lebih buruk daripada tindakan Abu Jahal kepada Muhammad pagi tadi.”

“Kurang ajar!” teriak Hamzah, tanpa berpikir bahwa ia dan Abu Jahal sebetulnya berada dalam satu kubu, sedangkan Muhammad berdiri di kubu yang lain.

“Ceritakan, apa yang telah dilakukan Abu Jahal kepada Muhammad.”

Salma lantas menuturkan, “Saat itu Muhammad sedang duduk sendirian di kaki Bukit Shafa. Tiba-tiba Abul Hakam, si Abu Jahal itu, mendatanginya dan memaki-maki dengan cacian yang kotor. Muhammad cuma diam, tidak membalas sepatah pun. Abu Jahal tambah naik pitam. Ia meraup pasir dan menaburkannya ke wajah Muhammad. Kemenakan engkau itu masih bergeming. Abu Jahal kian menjadi-jadi. Ia mengambil tahi binatang dan melemparkannya kepada Muhammad.

Karena yang dirudha-paksa, dianiaya, itu belum juga menimpalinya dengan suatu tindakan, Abu Jahal mengangkat dan membanting Muhammad, lalu menginjak-injak kepalanya. Sungguh, saya tidak sampai hati melihatnya lebih lama. Andai kata saya seorang lelaki, walaupun umpamanya saya bukan pengikut Muhammad, pasti Abu Jahal sudah saya seret dan saya lakukan kepadanya seperti yang telah dilakukannya atas diri Muhammad. Oh, laknat Allah kepada Abu Jahal.”

Salma kemudian menangis tersedu-sedu, membuat napas Hamzah berdengus-dengus. Ia tidak peduli lagi siapa Abul Hakam dan siapa Muhammad. Kalau begini, tidak ada golonganku dan golonganmu, partaiku dan partaimu. Sebab yang mencuat adalah hati nurani dan rasa kemanusiaan yang disakiti. Jangankan Muhammad, keluarganya sendiri. Seandainya Muhammad itu orang lain, atau unta yang tersesat dari pegunungan terpencil, siapa pun pasti akan murka mendengar perbuatan Abul Hakam yang sewenang-wenang itu.

Maka Hamzah segera berdiri, sambil mengenggam pangkal pedangnya, dan menyelempangkan anak panah serta busurnya. Dengan langkah panjang-panjang ia bergegas menuju Ka’bah. Ia menduga, Abu Jahal pasti sedang membual di sana. Si Biang Kebodohan itu tengah dikerumuni sejumlah konconya. Mereka adalah begundal-begundal yang selalu mengiyakan hampir semua ucapan Abu Jahal.

Tanpa menyampaikan salam seperti galib-Nya, Hamzah langsung menghardik Abu Jahal, “Hai, Cecurut! Betulkah kamu baru saja mencerca Muhammad dan menyiksanya?”

Abu Jahal menggigil mencium kemarahan Hamzah yang meluap. Seluruh anak buahnya juga tidak berani berkutik. Mereka sadar, yang dapat meladeni keandalan Hamzah dalam mengumbar kemarahan hanya Umar bin Khaththab. Yang lain-lainnya cuma semacam tikus berhadapan dengan serigala.

“Katakan sejujurnya. Sebab, kalau kau berani berbuat begitu kepada Muhammad, berarti berani pula menantang Hamzah. Ayo, katakan!” teriak Hamzah sambil menusukkan ujung anak panahnya ke leher Abu Jahal. Pemimpin kaum musyrikin itu tambah kecut.

Dengan sisa-sisa keberaniannya, akhirnya Abu Jahal menjawab lirih. “Sabar sebentar, wahai Biang Kemarahan. Kemenakan engkau itu sudah keterlaluan. Ia membodoh-bodohkan para pinisepuh kita. Ia menyatakan bahwa para leluhur kita telah tersesat, menyembah berhala-berhala. Ia telah menyebarkan agama baru yang menyebabkan masyarakat Quraisy terpecah-belah. Bukankah seharusnya engkau pun berbuat yang sama kepada Muhammad?”

Hamzah mendengus, “Hemm, aku sendiri bahkan mempunyai pikiran yang sejalan dengan Muhammad. Kalian sangat bodoh, menyembah-nyembah patung yang tidak punya daya apa-apa. Saksikanlah, sejak sekarang aku berikrar, tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan Muhammad itu memang benar utusan Allah.”

Semua yang mendengar pernyataan itu mendadak terbelalak. Mereka tidak menyangka Hamzah akan bersikap sejauh itu. Mereka hendak mencabut pedang dan mengeroyok Hamzah, tetapi Singa Gurun itu menusukkan mata anak panahnya ke leher Abu Jahal sampai darahnya mengucur deras.

Salah seorang kamerad Abu Jahal masih ada yang berani bersuara, “Hamzah, engkau telah tersihir oleh kemenakan engkau. Sungguh lancang. Engkau berani meninggalkan agama nenek moyang engkau. Bakal terkutuk engkau!”

“Kutuklah aku sesukamu. Aku tidak takut. Yang ku-takuti sekarang adalah laknat Allah,” jawab Hamzah, dengan suara lebih lantang dan sikap makin garang. “Hayo, siapa berani melarang aku mengikuti agama Muhammad, siapkan kepandaian dan senjatamu sebelum kubantai menjadi berkeping-keping.”

Tidak ada yang berani bercuit lagi. Abu Jahal menyuruh mereka diam. Lalu, tanpa menoleh, mereka meninggalkan Ka’bah setelah Hamzah melepas anak panahnya dari leher Abu Jahal. Darah masih menetes dari luka-luka di leher Abu Jahal. Darah itu adalah darah aniayanya terhadap nilai-nilai kemanusiaan, yang menggungah hati nurai Hamzah sehingga, hikmahnya, ia justru menginsyafi kedunguannya selama ini, telah menaati agama yang keliru dan sesat. 

Read Full Post »

Umar bin Khattab ra

“Membatalkan hukuman dengan diam-diam, bagiku lebih baik daripada melaksanakan hukuman dengan diam-diam.” (Umar bin Khathtab)

Masih segar dalam ingatan kaum muslim tatkala Rasulullah bersabda, “Aku bermimpi dalam tidur sedang memegang segelas susu. Kuminum hampir habis susu itu sampai rasa kenyang menyelusup di kuku-kukuku. Lalu sisanya kuberikan kepada Umar bin Khaththab.”

Waktu itu seorang sahabat bertanya, “Apa takwilnya, ya Rasulullah?”

Nabi menjawab, “Ilmu”

Nyatanya, semasa memegang jabatan khalifah, Umar bin Khaththab tersohor kekerasan dan “kegalakannya”. Akan tetapi, ilmunya menerangi semua sikap hidupnya, sehingga, dalam memutuskan suatu perkara, yang dipedomaninya adalah kecerdasan pemikirannya, bukan sentuhan perasaannya. Selaku penguasa, ia tidak terpengaruh oleh kemarahannya, kesedihannya, atau kepentingan pribadi dan keluarganya.

Ia pernah berkata, “Membatalkan hukuman dengan diam-diam, bagiku lebih baik daripada melaksanakan hukuman dengan diam-diam.” Sebab, membatalkan hukuman biasanya dilandasi oleh kebijaksanaan dan ampunan, sedangkan menjatuhkan hukuman bisa lantaran benci dan balas dendam. Apalagi jika dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Seorang ayah pada suatu saat datang kepada Khalifah Umar dan mengadu, “Anak perempuanku, wahai Amirul Mukminin, pernah terjerumus ke dalam dosa besar. Ia patah hati, lantas mengambil pisau dan mengerat lehernya sendiri. Untung aku memergokinya. Anak itu kuselamatkan, lukanya kurawat dengan baik hingga ia segar bugar kembali.”

“Hemm, mujur betul anakmu itu. Bunuh diri adalah tanda kekufuran. Ia harus bertobat,” ujar Umar.

Ayah itu menjawab, “Memang itulah yang dikerjakannya sesudah itu. Ia menyesal, dan bertobat dengan sungguh-sungguh. Sekarang ia dipinang seorang pemuda untuk menjadi istrinya. Apakah dosa itu harus kuceritakan kepada calon suaminya, wahai Amirul Mukminin?”

Umar bertitah lantang, “Apakah engkau bermaksud membongkar aib yang sengaja telah ditutupi oleh Allah? Demi Allah, seandainya kau lakukan hal itu, akan kuhukum engkau sedemikian rupa di depan masyarakat sehingga menjadi contoh pahit bagi yang lain.

Tidak, jangan kau ungkap kembali cacat yang sudah terhapus itu. Nikahkanlah putrimu sebagaimana layaknya seorang perempuan terhormat dan muslimat yang taat.”

Mungkin itulah yang dinamakan kearifan, dan tumbuh dari ruhani yang bersih dan adil. Umar tidak segan-segan menceritakan kesalahannya kepada hakim, dan meminta algojo mencambuknya sesuai dengan besar-kecilnya kesalahan yang dilakukannya. Di punggungnya membekas bilur-bilur cemeti algojo itu, tanpa sekelumit pun ia menampilkan kekuasaannya sebagai khalifah untuk diberi keringanan. Namun, Umar tidak ingin cacat orang lain dibeber-beberkan. Sebab, terhadap orang bersalah, yang diharapkan adalah memperbaiki, bukan memerosokkannya ke dalam kesalahan yang lebih besar.

Kepada bromocorah yang telah selesai menjalani hukumannya, misalnya, seharusnya masyarakat memberinya kesempatan untuk menebus dosa di masa lalu, bukan mengucilkannya sehingga ia terperangkap kembali ke dalam kesalahan.

Seorang laki-laki terengah-engah datang menghadap Umar. Mukanya merah padam dan suaranya menggeletar manakala ia bercerita, “Wahai Amirul Mukminin, saya melihat dengan mata kepala sendiri, pemuda Fulan dan pemudi Fulan berpelukan dengan mesra di belakang pohon kurma.”

Laki-laki itu berharap, Umar akan memanggil kedua anak muda yang asyik masyuk itu dan memerintahkan algojo supaya menderanya dengan cemeti.

Ternyata tidak. Khalifah Umar mencengkeram leher baju laki-laki itu. Sambil memukulnya dengan gagang pedang. Umar menghardik, “Kenapa engkau tidak menutupi kejelekan mereka dan berusaha agar mereka bertobat? Tidakkah kau ingat akan sabda Rasulullah, ‘Siapa yang menutupi aib saudaranya, Allah akan menutupi keburukannya di dunia dan akhirat?”

Dalam nalar Umar, bila kedua muda-mudi itu dipermalukan di tengah orang ramai, boleh jadi mereka akan nekat, lantaran tidak tahu ke mana hendak menyembunyikan diri. Bukankah bubu, perangkap, maksiat yang lebih parah akan mengurung mereka dalam nista berketerusan?

Pada kali yang lain, seorang muslim diseret ke hadapannya karena telah mengerjakan suatu dosa yang patut menerima hukuman cambuk. Tiga orang saksi mata telah mengemukakan pernyataan tentang kesalahan lelaki muslim itu. Tinggal seorang lagi, yang merupakan penentuan, apakah hukuman dera harus dijatuhkan ataukah diurungkan.

Ketika saksi keempat itu diajukan. Umar berkata, “Aku menunggu seorang hamba beriman yang semoga Allah tidak akan mengungkapkan kejelekan sesama muslim dengan kesaksiannya.”

Dengan lega saksi keempat itu menyatakan, “Saya tidak melihat suatu kesalahan yang menyebabkan lelaki itu wajib dihukum cambuk.”

Khalifah Umar pun ikut bernapas lega.

Nabi bersabda, “Allah senantiasa menerima tobat orang yang bertobat.”

(HR Bukhari dan Muslim) 

Read Full Post »

Abdurrahman bin Auf

Sahabat ini “diramalkan” akan masuk surga dengan merayap – tidak secepat kilat atau dengan kepala tegak seperti sahabat Nabi lainnya. Tapi ia tak berkecil hati. Hadist tersebut, katanya, bukan ramalan, melainkan peringatan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Berita tentang dirinya telah tersebar. Tapi Abdurrahman bin Auf tidak bersedih mendengar ucapan Aisyah. Ia sendiri juga tahu, perkataan Aisyah itu benar, bukan isapan jempol. Memang Rasulullah pernah menyatakan, “Aku melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merayap.”

“Ucapan tersebut disampaikan Rasulullah berulang kali,” ujar Aisyah kepada beberapa sahabat baiknya. Padahal Rasulullah menyatakan, sejumlah sahabat lainnya bakal masuk surga dengan kecepatan seperti kilat, atau sambil berjalan dengan kepala tegak. Mengapa Abdurrahman, yang dikenal begitu mulia budi pekertinya, dan sangat besar jasanya, justru dikatakan bakal masuk surga sambil merangkak? Apa kesalahannya?

Keheranan Aisyah kian menjadi-jadi pada waktu ia menyaksikan Abdurrahman bin Auf membawa barang dagangan terdiri atas berbagai macam keperluan hidup yang dimuat oleh 600 ekor unta beban dari Syam, lalu barang dagangan itu dibagi-bagikannya dengan cuma-cuma kepada penduduk Madinah, di masa Utsman bin Affan. Alangkah dermawannya Abdurrahman namun betapa malang peruntungannya!

Pada suat kesempatan, Abdurrahman mendatangi Aisyah dan berkata, “Umul Mu’minin telah mengingatkan saya akan sebuah hadits yang tak ‘kan pernah terlupakan seumur hidup.”

“Betul, itulah yang dikatakan Rasulullah tentang Tuan di hari pembalasan,” ujar Aisyah.

“Karena itulah saya akan memacu diri supaya lebih banyak lagi beramal shalih dan lebih ikhlas bersedekah. Sebab saya tahu, hadits yang semacam itu bukanlah merupakan ramalan, melainkan peringatan kepada saya untuk memperbesar ibadah dan pengabdian kepada Allah agar nasib saya tidak sejelek itu,” sahut Abdurrahman.

Aisyah tercenung, memikirkannya. Ia terkesan oleh jawaban Abdurrahman yang bestari. Dan Aisyah menyaksikan sendiri, betapa setelah itu Abdurrahman bin Auf lebih tekun melakukan kebajikan-kebajikan, dengan pelbagai cara dan kesempatan.

Itulah keikhlasan Abdurrahman sejak pertama kali memeluk agama Islam. Ia mendengar seruan Islam dari Abubakar Ash-Shidiq bersama Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah. Mereka tidak berdalih-dalih lagi, sebab yakin betul akan kejujuran Abubakar dan kebenaran ajaran Muhammad SAW sebagai utusan Tuhan.

Sejak itu, saudagar yang cerdik dan kaya raya tersebut tidak pernah surut membela Rasulullah dalam perjuangan mensyiarkan Islam.

Abdurrahman termasuk sahabat yang telah tiga kali menjalankan hijrah demi agamanya. Sebagai sahabat dekat Nabi, ia di percaya oleh para sahabat lainnya dalam menyelesaikan berbagai perkara. Di antaranya masalah pengangkatan khalifah sepeninggal Rasulullah. Kepercayaan ini tidak dikhianatinya. Ia bertindak adil dan bersikap polos, karena kepercayaan para sahabat tersebut juga didasari keistimewaan-keistimewaannya sepanjang mendampingi Rasulullah semasa hidupnya.

Misalnya dalam peristiwa Perang Tabuk, yang terjadi pada tahun kesembilan bulan Rajab. Ekspedisi itu terkenal amat sukar dan sengsara, hingga kedatangan Nabi terlambat, dan sudah didahului Abdurrahman beserta beberapa ratus anak buahnya. Di tempat perhentian, Abdurrahman mengimami salat fardhu Zhuhur.

Persis ketika ia sedang bertakbir, Rasulullah pun tiba bersama pasukannya. Maka Rasulullah langsung berdiri di belakang Abdurrahman sebagai makmun. Dengan demikian Abdurrahman-lah satu-satunya sahabat yang pernah mengimami salat di muka Nabi tanpa mendapat perintah dari beliau. Bahkan Abu bakar sendiri hanya dua kali menjadi imam di depan Nabi, itu pun atas perintah beliau, karena Nabi sedang sakit.

Sikapnya yang terpuji adalah kebersahajaan dan ketulusannya. Pada waktu tiba di Madinah sebagai muhajirin, seperti para sahabat dari Makkah lainnya, Abdurrahman tidak membawa hartanya sepeser pun. Sahabatnya dari pihak Anshar menawarkan bantuan kepadanya.

Sahabat itu, Sa’ad bin Rabi’, berkata, “Saya memiliki kekayaan melimpah. Tuan ambillah sebagian, buat saya masih tersisa amat banyak. Dan saya juga mempunyai beberapa sahaya cantik. Silakan ambil salah satu untuk istri Tuan.”

Abdurrahman dengan terharu menyambut baik tawaran itu. Namun, secara halus ia menampik. “Maaf. Bila Tuan hendak menolong saya, tunjukkan saja jalan ke pasar.”

“Mengapa begitu?” tanya Sa’ad keheranan.

“Saya ini seorang pedagang. Dan bagi pedagang, lahan untuk mencari penghidupan adalah pasar, bukan di gudang Tuan,” sahut Abdurrahman seadanya.

Maka demikianlah yang terjadi. Setelah beberapa lama menetap di Madinah, Abdurrahman bin Auf menjadi hartawan kembali.

 

Read Full Post »

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.